
Suatu hari di awal bulan Oktober yang cerah. Sinar matahari berbinar lembut dipantulkan dedaunan. Udara cerah namun cukup sejuk. Hampir jam 12 siang.
Si tukang puisi keluar ke beranda rumah. Wajahnya masih kusut dan matanya masih sayu, rambutnya acak-acakan. Dia menggeliat sambil memasukan udara segar kedalam dadanya yang penuh asap tembakau. Mulutnya menguap lebar, tangan kirinya berusaha menutupi demi etika, tangan kanannya terentang ke udara demi kepuasan geliatnya.
Seorang gadis cilik penjual bunga lewat depan rumahnya menjinjing sekeranjang mawar yang wangi dan segar. Ia akan menawarkan bunganya pada yang sedih hatinya, yang girang hatinya, dan yang sedang dimabuk cinta. Merekalah yang biasanya membeli bunga.
“Selamat pagi bunga, kau segar dan cantik pagi ini. Bolehkah aku membeli setangkai mawar darimu?”
“Selamat siang, ini sudah bukan pagi. Kau tampak dekil dan kusut. Setangkai lima ribu.” Kata gadis cilik itu sambil menahan tawa melihat si tukang puisi.
“Ah, lima ribu… tak ada uang lagi padaku. Sudah aku habiskan untuk kopi dan kretek tadi malam. Bagaimana kalau aku bayar dengan sebuah puisi?”
“Nggak mau. Enak aja. Apa gunanya puisi bagiku?” jawab gadis cilik itu sambil mengurungkan niatnya memberikan setangkai mawar.
“Apa gunanya uang lima ribu bagimu?”
“Banyak. Aku bisa menabung. Kalau sudah banyak aku bisa membeli apa yang aku suka. Aku bisa menjadi kaya. Harta menopang badan kata orang-orang tua.”
“Puisi adalah keindahan tertinggi. Ungkapan cinta tersuci. Dan cinta menopang jiwa.” Kata si tukang puisi seolah berdeklamasi.
“Jika puisi keindahan tertinggi, mengapa orang-orang lebih suka membeli seikat mawar daripada sebait puisi?”
“Karena orang-orang telah tersesat di belantara harta jadi mereka tak mengenal lagi indahnya cinta dalam puisi.”
“Kalau begitu, gubahlah sebuah puisi yang indah tentang mawar ini, kau boleh memandangnya, kau boleh mencium harumnya tapi kau tak boleh memilikinya.” Gadis cilik penjual mawar itu perlahan melambaikan setangkai mawar segar di depan hidung si tukang puisi.
“Lalu juallah puisi itu kepada yang mau. Besok aku akan lewat lagi. Sisakan lima ribu untukku, jangan habiskan uangmu untuk kretek dan kopi. Akan kuberikan padamu mawar yang paling indah.” Kaki kecilnya yang ringan dan lincah segera menari meninggalkan si tukang puisi sendiri.
Bau mawar yang segar melambungkan imaginasi si tukang puisi. Sayang tak ada pena dan kertas di beranda. Dia hanya terpejam dan menghirup wangi mawar segar itu dalam-dalam dan menulis sebuah puisi dalam otaknya yang masih setengah bermimpi.

-credit to Ouda Saija.
http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/02/01/tukang-puisi-dan-penjual-bunga/